Beranda » Bahasa dan Sastra » Novel » Namaku Asher Lev
click image to preview activate zoom
Diskon
15%

Namaku Asher Lev

Rp 76.500 Rp 90.000
Hemat Rp 13.500
Kode978-602-0809-32-8
Stok Tersedia
Kategori Novel
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Pesan Langsung
Bagikan ke

Namaku Asher Lev

Penulis     : Chaim Potok

Tebal         : xvi + 436 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Gading Publishing

Deskripsi:

Secara jujur harus saya katakan bahwa sebelum mendapat kesempatan untuk menerjemahkan novel ini, Chaim Potok dan karyanya ini adalah dua hal yang asing bagi saya. Namun, sepotong informasi dari Direktur Penerbit Gading,  Bang Hairus Salim, bahwa novel ini merupakan salah satu novel favorit Gus Dur membuat saya langsung menyanggupi untuk menerjemahkannya. Saya berasumsi bahwa novel favorit dari tokoh sekaliber Gus Dur pastilah memiliki sesuatu yang bagus dan perlu, tapi tidak merepotkan untuk dibaca. Dengan sedikit cerita tersebut, saya ingin mengakui kepada sidang pembaca yang cendekia bahwa novel ini saya terjemahkan dengan kenekadan. Meskipun begitu, tidak berarti saya mengharapkan permakluman atas kekeliruan dan ketidakelokan dalam terjemahan ini. Bagaimanapun,kekeliruan dan ketidakelokan haruslah dikoreksi dan dibenahi.

Kenekadan untuk menerjemahkan novel ini memaksa saya benar-benar bekerja keras. Latar sosiokultural Yahudi-nama yang lebih sering saya (mungkin kita) dengar sekadar sebagai salah satu golongan yang “memusuhi Islam”- dan dunia seni rupa dalam novel ini membuat saya harus sering-sering mencari sumber bacaan yang relevan untuk dapat mengerti isi teks dengan baik atau setidaknya mencukupi. Syukurlah, kini kita hidup di “zaman internet”; sumber-sumber pengetahuan dari internet dengan mesin pencarinya sangatlah membantu dan memudahkan kerja penerjemahan ini. Namun begitu, saya juga tetap menggunakan sumber-sumber bacaan dalam bentuk tercetak yang lazim selama ini buku-buku-buku kajian, kamus, dan ensiklopedi.

Selanjutnya perlu saya kemukakan pula beberapa hal penting dalam penerjemahan ini. Pertama, struktur kalimat bahasa sumber dalam novel ini sedapat mungkin saya pertahankan dalam penerjemahannya. “sedapat mungkin” di sini berarti struktur kalimat tersebut masih berpadanan dengandan enak dibaca dalam struktur kalimat bahasa Indonesia. Jika dua kriteria itu tidak terpenuhi, saya akan mengubah strukturnya tanpa mengubah substansi artinya. Kedua, kata-kata yang khas dalam kultur Yahudi tidak saya terjemahkan dan bila perlu saya berikan catatan kaki. Hal ini mungkin mengganggu kenikmatan membaca, tetapi apa boleh buat karena mungkin bagi sebagian besar kita, hal ikhwal Yahudi adalah sesuatu yang asing. Ketiga, dalam kasus-kasus kepelikan yang khusus, saya memberanikan diri untuk mengambil keputusan penerjemahan yang khusus pula. Cintohnya adalah adegan di kelas ketika guru Asher Lev marah kepada Asher Lev karena anak itu tertidur saat pelajaran berlangsung. Sang guru membuat olok-olok dengan mengacu pada nama Chagall, pelukis Yahudi pendahulu Asher Lev. Dalam adegan itu si guru mengomel dengan kalimat-kalimat yang mempermainkan bunyi-bunyi (kata) sha dan gallIf you fall asleep and make people say sha sha, I will make your life bitter like gall gall.”  Seruan sha tanpa masalah dapat saya ubah begitu saja menjadi sya karena sekadar merupakan tiruan bunyi orang yang sedang menjaga anak yang tertidur. Yang pelik adalah kata gall yang bunyinya tetap harus dipertahankan, sementara pada sisi yang lain gall harus diterjemahkan karena merupakan sebuah kata yang mengandung beberapa kemungkinan arti yakni: 1. Lempedu, 2. Sesuatu yang pahit; 3. Bisul, 4. Lecet. Untuk mengatasi kepelikan itu, apa boleh buat saya mengambil jalan keluar penerjemahan yang berkhianat, menyimpang atau merupakan bid’ah secara leksikal. Saya telah memotong kalimat sumber terjemahannya, lalu menerjemahkan bitter “secara keliru” dengan “pegal” demi mendapatkan kedekatan bunyi dengan nama Chagall. “Jika kamu tertidur dan membuat orang menjaga tidurmu dengan berdesis: ‘sya-sya-sya’, maka aku akan membuat hidupmu menjadi pegal: ‘gal-gal-gal’.”Bid’ah leksikal itu saya lakukan demi memeprtahankan olok-olok permainan dan sinisme sang guru kepada Asher Lev, kepada Marc Chagall, dan terhadap seni lukis pada umumnya. Sebagian kaum Yahudi sebagaimana tergambar dalam novel ini memang menganggap seni lukis sebagai hal yang terlarang – ini merupakan tafsiran luas terhadap apa yang tersurat dalam Sepuluh Perintah Tuhan, khususnya perintah yang kesua tentang larangan membuat patung.

Demikianlah, segenap daya upaya telah saya lakukan untuk menerjemahkan novel ini. Selanjutnya, saya persilahkan pembaca untuk menikmati dan jika perlu memberikan kritik dan asaran.

Selamat membaca!

–Rh. Widada

Tags: ,

Namaku Asher Lev

Berat 300 gram
Kondisi Baru
Dilihat 19 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Keranjangku
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Pustaka Kita
● online
Pustaka Kita
● online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja